Loading ...

Sejarah & Makna Ruwat Gimbal Wonosobo (Dataran Tinggi Dieng)

Ruwat Gimbal, atau yang sering disebut juga Ruwatan Rambut Gimbal, adalah tradisi yang cukup unik dan menarik di Dataran Tinggi Dieng (termasuk wilayah Wonosobo). Tradisi ini menarik minat wisatawan lokal maupun luar karena menggabungkan unsur mistik, budaya lokal, dan religiusitas. Dalam artikel ini kita akan mengulas sejarah, proses ritual, makna serta potensi pariwisatanya.

Ruwat Gimbal di Wonosobo / Dieng menyimpan banyak lapisan — antara legenda, kepercayaan, adat, dan makna spiritual. Bagi wisatawan, menyaksikan tradisi ini memberi pengalaman yang mendalam — tidak sekadar “melihat” tetapi juga memahami konteks budaya dan nilai-nilai lokal.

FotoJet-2024-07-24T235037906-57472173
rtretretr-3034842705

Asal-Usul & Legenda

  • Menurut cerita rakyat setempat, anak yang memiliki rambut gimbal dianggap sebagai titisan atau “titipan” tokoh leluhur seperti Kyai Kolodete dan Nyi Roro Ronce (utusan Nyi Roro Kidul). Pariwisata Indonesia+4Espos Regional+4DJKN Kementerian Keuangan+4
  • Kyai Kolodete dipercaya pernah bersumpah bahwa beliau tidak akan mencukur rambutnya selama Dataran Tinggi Dieng belum makmur. Karena itu ketika sumpah tersebut belum terpenuhi, roh atau kekuatannya dipercayakan menitis ke anak-anak yang lahir kemudian, sehingga rambut mereka tumbuh menjadi gimbal secara alami. Kemenparekraf+4OJS Unsiq+4DJKN Kementerian Keuangan+4

  • Di Desa Tlogojati, Wonosobo, penelitian menunjukkan bahwa tradisi potong rambut gimbal telah melekat dalam kehidupan masyarakat sebagai hasil akulturasi antara adat istiadat leluhur dan sistem keagamaan

Waktu & Penyelenggaraan

  • Dahulu tradisi Ruwat Gimbal sering dilaksanakan pada tanggal Satu Suro dalam kalender Jawa sebagai waktu yang sakral. Budaya Indonesia+2Pariwisata Indonesia+2

  • Namun, seiring waktu dan perkembangan pariwisata, pelaksanaan tidak selalu terikat pada tanggal Jawa tersebut; seringkali diadakan bersamaan dengan Dieng Culture Festival (DCF) atau momentum peringatan daerah. detikcom+3Kemenparekraf+3Pariwisata Indonesia+3

  • Di Wonosobo khususnya di Desa Tlogojati, tradisi ini tetap dilestarikan sebagai bagian dari kebudayaan lokal.

  •  

Kepercayaan & Makna Budaya

  • Bagi masyarakat Dieng, rambut gimbal tidak semata fenomena fisik — melainkan dianggap memuat unsur mistis atau spiritual. Oleh karena itu tidak boleh dipotong sembarangan tanpa melalui ritual khusus. OJS Unsiq+4Budaya Indonesia+4detikcom+4

  • Ruwatan diadakan untuk “membersihkan” atau “membebaskan” anak dari sesuker (kesialan, malapetaka) yang diyakini melekat melalui rambut gimbal. OJS Unsiq+3Budaya Indonesia+3Pariwisata Indonesia+3

  • Ritual ini juga menjadi wujud penghormatan dan pengakuan terhadap warisan leluhur, serta upaya menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan kekuatan spiritual. Kemenparekraf+2Pariwisata Indonesia+2

  • Uniknya, sebelum dipotong, anak yang rambutnya gimbal akan mengajukan “permintaan” kepada orang tua — permintaan tersebut harus dipenuhi agar ritual dapat berjalan lancar. Jika permintaan tidak dipenuhi, diyakini rambut gimbal akan tumbuh kembali.

Pos Sebelumnya
Pos Berikutnya

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Dieng Hari Ini

Kami percaya, berwisata ke Dieng haruslah mudah, nyaman, dan tak terlupakan. Bergabunglah dengan kami, dan rasakan Dieng bukan sebagai turis, tetapi sebagai petualang sejati!

© 2025 Created with dienghariini.com