Ruwat Gimbal, atau yang sering disebut juga Ruwatan Rambut Gimbal, adalah tradisi yang cukup unik dan menarik di Dataran Tinggi Dieng (termasuk wilayah Wonosobo). Tradisi ini menarik minat wisatawan lokal maupun luar karena menggabungkan unsur mistik, budaya lokal, dan religiusitas. Dalam artikel ini kita akan mengulas sejarah, proses ritual, makna serta potensi pariwisatanya. Ruwat Gimbal di Wonosobo / Dieng menyimpan banyak lapisan — antara legenda, kepercayaan, adat, dan makna spiritual. Bagi wisatawan, menyaksikan tradisi ini memberi pengalaman yang mendalam — tidak sekadar “melihat” tetapi juga memahami konteks budaya dan nilai-nilai lokal. Asal-Usul & Legenda Menurut cerita rakyat setempat, anak yang memiliki rambut gimbal dianggap sebagai titisan atau “titipan” tokoh leluhur seperti Kyai Kolodete dan Nyi Roro Ronce (utusan Nyi Roro Kidul). Pariwisata Indonesia+4Espos Regional+4DJKN Kementerian Keuangan+4 Kyai Kolodete dipercaya pernah bersumpah bahwa beliau tidak akan mencukur rambutnya selama Dataran Tinggi Dieng belum makmur. Karena itu ketika sumpah tersebut belum terpenuhi, roh atau kekuatannya dipercayakan menitis ke anak-anak yang lahir kemudian, sehingga rambut mereka tumbuh menjadi gimbal secara alami. Kemenparekraf+4OJS Unsiq+4DJKN Kementerian Keuangan+4 Di Desa Tlogojati, Wonosobo, penelitian menunjukkan bahwa tradisi potong rambut gimbal telah melekat dalam kehidupan masyarakat sebagai hasil akulturasi antara adat istiadat leluhur dan sistem keagamaan Waktu & Penyelenggaraan Dahulu tradisi Ruwat Gimbal sering dilaksanakan pada tanggal Satu Suro dalam kalender Jawa sebagai waktu yang sakral. Budaya Indonesia+2Pariwisata Indonesia+2 Namun, seiring waktu dan perkembangan pariwisata, pelaksanaan tidak selalu terikat pada tanggal Jawa tersebut; seringkali diadakan bersamaan dengan Dieng Culture Festival (DCF) atau momentum peringatan daerah. detikcom+3Kemenparekraf+3Pariwisata Indonesia+3 Di Wonosobo khususnya di Desa Tlogojati, tradisi ini tetap dilestarikan sebagai bagian dari kebudayaan lokal. Kepercayaan & Makna Budaya Bagi masyarakat Dieng, rambut gimbal tidak semata fenomena fisik — melainkan dianggap memuat unsur mistis atau spiritual. Oleh karena itu tidak boleh dipotong sembarangan tanpa melalui ritual khusus. OJS Unsiq+4Budaya Indonesia+4detikcom+4 Ruwatan diadakan untuk “membersihkan” atau “membebaskan” anak dari sesuker (kesialan, malapetaka) yang diyakini melekat melalui rambut gimbal. OJS Unsiq+3Budaya Indonesia+3Pariwisata Indonesia+3 Ritual ini juga menjadi wujud penghormatan dan pengakuan terhadap warisan leluhur, serta upaya menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan kekuatan spiritual. Kemenparekraf+2Pariwisata Indonesia+2 Uniknya, sebelum dipotong, anak yang rambutnya gimbal akan mengajukan “permintaan” kepada orang tua — permintaan tersebut harus dipenuhi agar ritual dapat berjalan lancar. Jika permintaan tidak dipenuhi, diyakini rambut gimbal akan tumbuh kembali.
Festival Balon Udara Wonosobo: Tradisi Meriah yang Mendunia
Setiap tahun, langit Wonosobo berubah menjadi penuh warna ketika Festival Balon Udara digelar. Ratusan balon udara tradisional tanpa awak menghiasi angkasa, menampilkan corak dan motif yang unik buatan masyarakat setempat. Tradisi ini bukan sekadar hiburan, melainkan bagian dari kearifan lokal yang sudah turun-temurun, sekaligus menjadi atraksi wisata budaya yang selalu ditunggu. Festival Balon Udara Wonosobo adalah perpaduan antara tradisi, kreativitas, dan kegembiraan masyarakat. Bagi wisatawan, ini bukan sekadar festival, melainkan pengalaman budaya yang sarat makna. Saat langit Wonosobo dihiasi balon warna-warni, Anda akan merasakan semangat kebersamaan dan keindahan tradisi yang membuat Wonosobo semakin istimewa. Sejarah Festival Balon Udara Wonosobo Tradisi balon udara di Wonosobo diyakini sudah ada sejak lama, terutama sebagai bagian dari perayaan Idul Fitri (bulan Syawal). Masyarakat membuat balon udara raksasa dari kertas warna-warni, kemudian menerbangkannya sebagai bentuk rasa syukur dan doa agar harapan baik ikut terbang ke langit.Dulu, balon udara ini diterbangkan bebas dengan api di dalamnya, namun seiring waktu pemerintah mengarahkan festival ini menjadi ajang resmi, aman, dan tertib dengan perlombaan antar-kelompok pembuat balon. Waktu & Lokasi Penyelenggaraan Biasanya festival digelar setiap tahun setelah Idul Fitri. Lokasi utama berada di lapangan besar sekitar Kota Wonosobo dan beberapa titik di desa sekitar. Festival ini sudah menjadi agenda wisata budaya Kabupaten Wonosobo, bahkan menarik perhatian wisatawan mancanegara. Tips Berkunjung Datang lebih pagi untuk mendapatkan spot terbaik melihat penerbangan balon. Bawa kamera atau smartphone untuk mengabadikan momen langka ini. Siapkan jaket, karena udara Wonosobo bisa sejuk bahkan di musim panas. Cobalah juga kuliner khas Wonosobo seperti mie ongklok dan carica setelah puas menonton festival.
Rekomendasi Tempat Wisata Dieng yang Wajib Dikunjungi
Dataran Tinggi Dieng, yang berada di Kabupaten Wonosobo dan Banjarnegara, Jawa Tengah, dikenal sebagai salah satu destinasi wisata paling populer di Indonesia. Terletak di ketinggian lebih dari 2.000 meter di atas permukaan laut, Dieng menawarkan panorama alam yang menakjubkan, kekayaan budaya, dan udara sejuk yang menyegarkan. Berikut rekomendasi tempat wisata Dieng yang wajib masuk dalam daftar liburan Anda. Dieng adalah destinasi wisata yang menawarkan pengalaman lengkap: dari keindahan alam, sejarah, hingga budaya. Dengan begitu banyak pilihan tempat menarik, wajar jika Dieng dijuluki sebagai “Negeri di Atas Awan”. 10 Rekomendasi Tempat Wisata Dieng yang Wajib Dikunjungi 1. Bukit Sikunir – Negeri di Atas Awan Terkenal dengan sebutan Golden Sunrise Sikunir, tempat ini menjadi spot terbaik untuk menikmati matahari terbit. Wisatawan rela mendaki sekitar 30–40 menit sebelum fajar untuk menyaksikan pemandangan spektakuler dengan latar gunung Sindoro, Sumbing, hingga Merapi. 2. Kompleks Candi Arjuna Merupakan kompleks candi Hindu tertua di Jawa, diperkirakan berdiri pada abad ke-7 hingga 9. Arsitekturnya sederhana namun penuh nilai sejarah, cocok untuk wisata budaya sekaligus fotografi. Setiap tahun menjadi lokasi utama Dieng Culture Festival. 3. Kawah Sikidang Daya tarik utamanya adalah kawah dengan letupan lumpur panas dan asap belerang yang terus mengepul. Pengunjung bisa melihat fenomena geologi unik dari dekat, namun tetap dengan jalur aman yang disediakan. Kini sudah ada jembatan kayu estetik yang instagramable untuk wisatawan. 4. Telaga Warna & Telaga Pengilon Dua telaga kembar yang terkenal dengan pemandangan menawan. Telaga Warna bisa berubah warna karena kandungan sulfur, sementara Telaga Pengilon terkenal dengan kejernihannya. Lokasi keduanya berdekatan, sehingga bisa dikunjungi dalam sekali jalan. 5. Batu Ratapan Angin Spot populer untuk melihat panorama Telaga Warna dan Telaga Pengilon dari ketinggian. Lokasinya tidak jauh dari telaga, dan sering jadi favorit wisatawan untuk berfoto. 6. Dieng Plateau Theater Tempat edukasi wisata yang menayangkan film dokumenter seputar alam, budaya, dan sejarah Dieng. Cocok untuk menambah wawasan sebelum menjelajahi kawasan ini. 7. Telaga Cebong Telaga alami yang indah, sering dijadikan tempat camping. Terletak dekat dengan Desa Sembungan, desa tertinggi di Pulau Jawa. 8. Bukit Scooter & Gardu Pandang Tieng Spot terbaik untuk melihat pemandangan Kota Wonosobo dari ketinggian. Waktu terbaik berkunjung adalah sore menjelang matahari terbenam. 9. Desa Sembungan – Desa Tertinggi di Pulau Jawa Selain jadi pintu masuk menuju Bukit Sikunir, desa ini juga menarik untuk dikunjungi. Udara sejuk, suasana pedesaan yang tenang, dan pemandangan alam yang luar biasa. 10. Museum Kailasa Museum kecil namun menarik yang menyimpan berbagai artefak, arca, dan peninggalan sejarah Dieng. Memberikan gambaran lengkap tentang kehidupan masyarakat Dieng di masa lampau. Tips Wisata ke Dieng Gunakan pakaian hangat, karena suhu di malam hari bisa mencapai 0°C. Jangan lewatkan kuliner khas Dieng seperti mie ongklok, carica, dan tempe kemul. Jika memungkinkan, datanglah saat Dieng Culture Festival untuk merasakan kemeriahan budaya Dieng.